Kenali Kekerasan Verbal dan Emosional dalam Hubungan

Kekerasan verbal mencakup kekerasan emosional.
Kalau Anda atau pasangan tumbuh dari keluarga yang mempraktikkan kekerasan verbal dan emosional, Anda atau pasangan takkan menyadari jika pernah melakukan hal yang sama. Anda takkan menyadari bahwa pasangan telah melakukan kekerasan kepada Anda. Begitu pun sebaliknya, pasangan Anda bisa jadi adalah korban kekerasan dari perilaku kasar yang tak Anda sadari.

Relationship Coach dan Edukator Pernikahan, Dr Margaret Paul, PhD mengatakan kekerasan verbal mencakup kekerasan emosional. Namun, kekerasan emosional tak terlalu tampak seperti kekerasan verbal.  "Seringkali kekerasan emosional lebih halus dan terselubung dari kekerasan verbal yang lebih terbuka," jelasnya.

Menurut Paul, penting bagi seseorang yang mengalami kekerasan untuk memahami bahwa kekerasan itu terjadi bukan disebabkan olehnya. Dengan kata lain, pelaku kekerasan melakukan kekerasan verbal atau emosional karena masalah dalam dirinya, bukan disebabkan oleh Anda selaku korban. Setiap orang juga perlu memahami bahwa begitu kekerasan verbal dan emosional terjadi, tak ada toleransi atasnya, atau tidak ada pembenaran atas segala tindakan kekerasan.

Dengan memahami hal ini, Anda pun akan mampu melindungi diri. Karena biasanya, jika mulai terjadi pembiaran atau si korban menganggap dia lah penyebab terjadinya tindakan kekerasan atau dia lah yang menyebabkan pasangan menjadi pelaku kekerasan, maka si korban tak lagi fokus ada dirinya. Ia justru menjadi korban untuk kedua kalinya, dengan berusaha memahami perilaku abuser, mencoba mengerti akan kondisinya.

Padahal, sekali saja Anda mengalami kekerasan, Anda harus berpikir bahwa Anda tak lagi bisa mengontrol perilaku si pelaku kekerasan, bahwa Anda tersakiti, dan tak ada yang bisa dibicarakan lagi dengan pasangan yang melakukan kekerasan.

"Ketika seseorang merasa memiliki kontrol dan menguasai orang lain, mereka tidak akan mau mengerti dan memperbaiki keadaan yang terjadi," tutur Paul.

Dengan kata lain, sekali saja pasangan melakukan tindakan semena-mena terhadap Anda, si dia takkan bisa memahami betapa tindakan tersebut adalah keliru dan Anda tersakiti karenanya. "Kenali apakah Anda pernah diperlakukan kasar dan lakukan tindakan terhadapnya!" saran Paul.

Paul merumuskan, yang termasuk kekerasan verbal di antaranya:
* Berperilaku tak menyenangkan, tidak sabar, dan argumentatif.
* Menyalahkan kemarahan, kemarahan yang tak terduga, permusuhan, meledak-ledak, kecemburuan.
* Menyalahkan pasangan ketika tindakan kekerasan terjadi atau dilakukannya.
* Menuntut, memerintah.
* Mengkritik berlebihan dan menghakimi.

Sementara, kekerasan emosional mencakup:
* Minim empati.
* Membatasi pasangan.
* Memberikan sebutan buruk, misal, "Sayang, kamu itu pengemudi yang buruk!"
* Tidak memedulikan perasaan dan pendapat pasangan.
* Bertindak seakan dia adalah korban.
* Bersikap kompetitif.
* Bercanda namun merendahkan.






Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : created by | Barangit.COM | design tercela
Copyright © 2011. TERCELA - All Rights Reserved
Template di otak atik by tercela Published by design otak atik tercela
Proudly powered by Blogger