Peretas Media AS Dikerahkan Pemerintah China?


Serangkaian serangan siber terhadap media utama di Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran akan aktivitas para peretas China. Namun, tidak bisa dipastikan apakah serangan itu memang dilakukan China atau atas nama Pemerintah China.

Washington Post, menjadi media terakhir yang mengungkapkan bahwa mereka menjadi sasaran peretasan pada 2011. Sehari sebelumnya, jejaring sosial Twitter mengaku aksi peretasan telah menembus informasi sekitar 250.000 akun dari 200 juta pengguna aktif. Meski tak menyebut langsung, mereka menyebut penyusupan itu dilakukan oleh pelaku yang sama.

Tuduhan bahwa peretas China berada di balik serangan tersebut disampaikan New York Times dan Wall Street Journal. Pekan lalu, kedua media itu mengatakan, jaringan komputer mereka telah diretas. Mereka menuduh bahwa peretasan itu didalangi Pemerintah China untuk memata-matai media AS.

Namun, Kementerian Luar Negeri China membantah dan mengatakan semua tuduhan itu tidak berdasar. Kementerian Pertahanan China juga mengulangi pernyataan mereka bahwa Beijing ”tak pernah mendukung aksi peretasan apa pun”.

Bukti

James Lewis, spesialis keamanan siber dari lembaga Center for Strategic and International Studies, mengatakan, terdapat bukti yang mendukung tuduhan keterlibatan Pemerintah China. Peretas asal China sebelumnya dikaitkan dengan serangan pada produsen alat pertahanan Lockheed-Martin, Google, dan Coca-Cola. Laporan lain menyebutkan, peretas China mencoba menyusup ke jaringan komputer Pentagon dan Kongres AS.

”China tak mengikuti peraturan yang disepakati negara lain di dunia. Di satu sisi karena mereka tidak mengerti, di sisi lain karena mereka tidak menghargai peraturan itu,” ujar Lewis.

Menurut dia, serangan itu telah mencapai batas yang tak dapat ditoleransi. Lewis mendesak Pemerintah AS untuk segera menanggapi hal tersebut.

Wall Street Journal menurunkan laporan bahwa dalam buku The New Digital Age, bos Google, Eric Schmidt, memberikan cap China sebagai ancaman bagi internet. China disebut mengesahkan serangan siber untuk keuntungan ekonomi dan politik.

Buku yang akan terbit April itu ditulis Schmidt bersama Jared Cohen, mantan penasihat Departemen Luar Negeri AS, yang mengepalai divisi Google Ideas. Dalam buku itu, China disebut sebagai ”penyaring informasi paling aktif dan antusias di dunia” serta ”peretas perusahaan asing paling canggih di dunia”.

Sebelum mengakhiri masa jabatannya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Kamis lalu, mengatakan, terjadi peningkatan serangan siber terhadap institusi pemerintah dan swasta.

”Kami tegaskan—tak hanya pada China—AS akan melindungi tak hanya institusi pemerintah, tetapi juga swasta dari serangan ilegal semacam itu,” ujarnya.

Graham Cluley, konsultan teknologi senior firma keamanan Inggris, Sophos, mengatakan, perusahaan media sebelumnya tak pernah mengira diri mereka menjadi sasaran peretasan. Jika laporan itu benar, aksi itu bertujuan mengetahui sumber wartawan media tersebut dan melakukan sesuatu kepada mereka.

Serangan ini dilakukan diam-diam dalam jangka waktu lama. Cluley mengatakan, kalaupun sumber serangan bisa dikonfirmasi, sangat sulit untuk menjatuhkan sanksi. ”Peretas bisa langsung pergi. Apakah Anda bisa mengeluarkan seluruh negeri itu dari jaringan internet?” ujarnya.
Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : created by | Barangit.COM | design tercela
Copyright © 2011. TERCELA - All Rights Reserved
Template di otak atik by tercela Published by design otak atik tercela
Proudly powered by Blogger