5 Syarat Sukses Jadi Penulis Biografi


Mau jadi penulis biografi sukses seperti Alberthiene Endah, simak tipsnya
Popularitas Alberthiene Endah sebagai salah satu penulis buku biografi tak perlu diragukan lagi. Kepiawaiannya menggulirkan cerita, dan mengorek sisi lain seorang tokoh terkenal, membuat para pembacanya tak dapat berhenti membalik halaman demi halaman bukunya.


Sampai saat ini, Alberthiene atau biasa disebut AE, sudah menghasilkan sekitar 29 buku biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Krisdayanti, Chrisye, Raam Punjabi, Anne Avantie, Titiek Puspa, Ibu Ani Yudhoyono, dan lain-lain. Tak heran, Alberthiene kini dijuluki sebagai the most wanted biographer (penulis biografi paling dicari) di Indonesia.


Alberthiene mengaku tak punya batasan waktu tertentu untuk bisa membuat buku. "Semua itu tergantung dari proses wawancara yang dilakukan. Ketika narasumbernya mudah untuk dikorek dan jujur, maka proses penulisan juga akan lebih cepat," tukasnya, saat acara peluncuran buku terbarunya, Meuthia Rizki: Memeluk Mimpi Mendayung Harapan, di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Ia mengungkapkan, ada beberapa hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis buku atau biografi yang sukses:


1. Buat suasana senyaman mungkin
Salah satu proses awal sebelum menulis buku adalah mengumpulkan berbagai bahan dan informasi melalui wawancara. "Ketika wawancara, usahakan untuk membuat suasana senyaman mungkin, karena ini akan mempermudah narasumber bercerita dengan nyaman pada Anda," tukasnya. Ia menyarankan untuk melakukan wawancara di tempat umum yang santai seperti di warung kopi atau restoran.


Cari waktu yang tepat untuk wawancara, agar pikiran narasumber terfokus pada Anda. "Sekalipun tokoh yang akan ditulis bukunya ini sangat sibuk, sebaiknya jangan mau jika ia menawarkan wawancara sembari bekerja. Hal ini akan membuat ceritanya terlalu panjang, dan juga tidak jelas," ungkapnya.


2. Beri batas waktu wawancara
Ketika melakukan wawancara, sebaiknya beri batasan waktu. Wawancara yang terlalu panjang akan mengaburkan inti penting dari sebuah cerita.  Menurut pengalaman Alberthiene, wawancara biografi seseorang akan sangat efektif ketika dilakukan dalam waktu 90 menit.
"Biasanya saat wawancara, saya hanya menyediakan dua buah kaset untuk merekam cerita saja. Dan point cerita ini akan didapatkan di 90 menit pertama," tukasnya.


3. Bedakan curhat dengan kisah hidup
Tidak semua kisah dalam perjalanan hidup seseorang bisa dituliskan. Usahakan untuk tidak terpancing dalam pembicaraan narasumber yang menyedihkan ataupun menjengkelkan. Anda harus jeli untuk memisahkan curhat dengan alur cerita yang ingin diketahui. Biasanya, alur cerita kisah hidup yang sebenarnya akan diceritakan selama 90 menit pertama, dan sisanya adalah curhat yang tidak terlalu penting untuk dituliskan.
Bumbu-bumbu dalam curhat ini secara tak langsung akan menjadi bunga dalam cerita, namun pada akhirnya akan menggiring Anda pada sebuah kesimpulan yang tidak objektif.


4. Mendengarkan dengan hati
Mendengarkan kisah hidup seseorang bukan hanya membutuhkan telinga dan alat perekam. "Sebagai seorang penulis, semua itu tidak ada artinya, jika Anda tidak bisa mendengarkan dan merekam dengan hati semua kisah yang diceritakan," ujarnya.


Menjadi penulis biografi juga bukan sekedar menjadi pencatat perjalanan hidup seseorang, tetapi lebih mirip seperti psikiater. Karena dalam cerita biografi, Anda harus bisa membuat seseorang merefleksikan kisah hidupnya, mulai dari kenangan manis, pahit, sedih, ataupun gembira, dengan baik.
"Untuk bisa mengorek semua cerita itu, kita harus bisa berempati dengan situasi mereka dan mendengarkan dengan hati, sebagai seorang teman yang baik. Dari situlah semua cerita akan mengalir dengan jujur," jelasnya.


5. Cari banyak informasi
Ketika menulis biografi seseorang, Anda tak bisa hanya mendengarkan cerita dari si narasumber saja. Kumpulkan juga informasi sebanyak-banyaknya dari keluarga atau teman dekat yang ada di sekitarnya. Hal ini bertujuan agar semua cerita yang dituliskan bisa menjadi sebuah cerita yang konkret dan singkron dengan berbagai pihak. Mendengarkan kesaksian dari satu narasumber saja akan membuat cerita ini menjadi terlalu subjektif dan kurang akurat. "Sinkronisasikan cerita dari narasumber utama dengan narasumber terdekat lainnya, agar ceritanya berimbang," pungkasnya. 



Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : created by | Barangit.COM | design tercela
Copyright © 2011. TERCELA - All Rights Reserved
Template di otak atik by tercela Published by design otak atik tercela
Proudly powered by Blogger